HAKIKAT BERMEDITASI DARI PANDANGAN SYARI’AT ISLAM


Meditasi berasal dari bahasa Inggris “meditation” yang kemudian diucapkan dalam bahasa Indonesia menjadi meditasi.Dalam bahasa sansekerta dikenal dengan istilah samadhi yang kemudian oleh bangsa kita terutama yang berkultur jawa disebut dengan “semadi”atau “tapa-brata”

Pengertian meditasi secara umum adalah sebagai suatu daya pemusatan bathin kearah percaya kepada Tuhan untuk tujuan kesempurnaan hidup manusia baik rohaniah maupun jasmaniah.

Menurut Sri Mulyono Hartono,pendiri atau pimpinan dan pelatih “Prana Meditasi Group” meditasi adalah salah satu upaya penjernihan bathin yakni pengendapan pikiran, rasa dan emosi untuk menciptakan ketenangan bathin.

Cara latihan meditasi pengendapan pikiran,rasa dan emosi untuk menciptakan ketenangan bathin menurut para meditator adalah sebagai berikut:

  1. Duduk bersila secara santai dan tenang,seluruh otot harus dikendorkan.
  2. Menutup mata lalu bernapas secara wajar dan kosongkan pikiran.
  3. Lupakan semua masalah yang ada,biarkan bayangan-bayangan atau fikiran-fikiran yang datang dalam hati sampai merasa keheningan yang total.

Sedangkan jika ingin bermeditasi untuk mendapatkan energi atau kekuatan ghoib ditambah dengan niat menarik energi Ilahi, dengan pemusatan fikiran pada cakra-cakra tubuh, dengan mengucapkan wirid atau mantra, dengan pengolahan nafas dan lain sebagainya.

Meditasi dapat dilakukan dimana saja asal keadaan daerah atau alamnya baik dan tenang secara kesehatan, namun diutamakan dalam meditasi adalah pada tempat-tempat yang diyakini memiliki sumber energi prana yang banyak atau tempat-tempat keramat seperti tempat ibadah, kuburan orang sakti,wilayah angker dan tempat-tempat lainnya yang diyakini memiliki keutamaan dan kekuatan ghoib.

Meditasi yang dilakukan di daerah yang diyakini mempunyai vibrasi energi tinggi

Sebelum saya menjelaskan mengenai hakikat meditasi yang sebenarnya,saya akan memaparkan sebuah contoh kejadian nyata tantang sebuah Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) BN (saya hanya menyebutkan inisial) di Yogyakarta yang melakukan meditasi untuk mendapatkan energi dan kemampuan ghoib.

Sekitar 85 orang peserta Muhibah Spiritual Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) BN Yogyakarta melakukan meditasi di kompleks Makam Sunan Kalijaga. Malam itu semua konsentrasi, tanpa suara, hanya desah nafas perlahan yang terdengar. Meditasi ini ternyata tidak saja dilakukan di makam Sunan Kalijaga, tetapi juga di tempat makam orang suci yang lain. Mengapa meditasi tidak dilakukan di masjid atau pegunungan yang udaranya bersih, malah justru dilakukan di kompleks makam?

Tujuan meditasi yang dilakukan di kompleks makam para wali dalam Muhibah Spiritual Akbar ke 5 ini, menurut Ketua Panitia D S A.Md, adalah untuk menarik energi suci yang ada di sekitar makam para wali. Di masjid memang bisa dilakukan, hanya B N sengaja mengadakan kegiatan ini di tempat – tempat yang mengandung energi besar. Kita mengunjungi makam dan tempat – tempat yang dianggap keramat lainnya, jelas D S, bukan untuk menyembah insan yang dimakamkan. Bukan untuk memuja jin, syetan atau penunggu ghaib (astral) yang ada di tempat keramat dan suci tersebut. Karena kita tidak ingin menjerumuskan diri dalam kemusrikan, tambahnya. Tetapi semata – mata kita berkunjung ke makam adalah karena Allah. Tujuan kita ke tempat – tempat tersebut tiada lain hanya untuk menyerap energi suci dari Allah, agar batin kita bertambah bersih, suci nan kuat atas seijin-Nya.”Berkunjung atau ziarah ke makam wali, agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karomah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,” jelasnya. Menurut D S lagi, adalah keliru bila ada yang beranggapan bahwa mengunjungi makam wali atau tempat keramat merupakan bid’ah atau musyrik.

Bagi D S yang penting adalah niat kita. Maka terlalu gegabah jika orang menuduh mereka yang berkunjung ke makam termasuk musyrik, kafir dan sebagainya. Allah lebih tahu suara hati hambanya dan merupakan hak prerogatif Allah untuk memasukkan seseorang ke dalam golongan ahli surga atau neraka. Biarlah Allah yang mengkalkulasi langkah dan napas kita sebab langkah dan napas kita sesungguhnya bertali cahaya dengan napas Allah. Sesungguhnya Allah ada dalam alam urat leher kita. Saat kita ingat Allah, dia pasti berkenan memangku kita. Saat kita menjauh dari Allah maka Dia pasti terus mengejar kita untuk menjulurkan tali hidayahnya, kata D S.

Selain itu Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam (LSMPTD) B N di Yogyakarta dalam menyambut Pengajian Sambut Ramadhan dan Muhibah Spiritual Akbar mengunjungi makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, makam Sunan Kalijaga di desa Kadilangu Demak, Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus, Goa Maharani dan Sunan Drajad di Lamongan, Makam Syech Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik serta Sunan Ampel di Surabaya. Dari sekian tempat yang dikunjungi, setidaknya ada dua tempat yang mendapat perhatian yaitu makam Sunan Kalijaga dan Sunan Drajad. Makam Sunan Kalijaga oleh rombongan digunakan sebagai tempat melatih meditasi. Sedang di makam Sunan Drajad digunakan untuk latihan menembus alam ghaib. Dipilihnya lokasi tersebut bukannya tanpa alasan. Latihan meditasi di makam Sunan Kalijaga, karena di tempat tersebut memiliki energi paling tinggi. Hal ini karena memang Sunan Kalijaga adalah wali yang memiliki ilmu paling tinggi.

Dengan meditasi menarik energi di tempat ini, maka diharapkan peserta akan menyerap energi lebih banyak. Selain itu karena energinya tinggi, peserta dapat dibantu oleh energi tersebut jika ada gangguan energi lain yang negatif.

Sedangkan di makam Sunan Drajad yang dipilih untuk menembus alam ghaib karena energi yang ada di tempat itu dapat membantu meditasi yang akan menembus alam ghaib. Apalagi semasa hidupnya Sunan Drajad terkenal dengan sifatnya yang welas asih sehingga energi yang ada di sekitar makamnya pun akan terpengaruh oleh sifat Sunan. Artinya peserta latihan dapat terbantu energi tersebut. Cara yang diajarkan untuk meditasi dan menembus alam gaib adalah pertama peserta harus berkonsentrasi di cakra jantung, badan rileks tapi serius, posisi duduk bersila. Kemudian mengaktifkan cakra mahkota atau ubun – ubun, seluruh cakra pori – pori dan meditasi cahaya gaib. Baru kemudian dibantu dengan pembacaan doa-doa.

Dari kejadian diatas dapat kita ambil rangkuman mengenai meditasi menurut penuturan para dewan guru B N adalah sebagai berikut :

  1. Meditasi dapat dilakukan pada makam keramat seperti kuburan wali atau tokoh-tokoh yang sakti mandraguna..
  2. Meditasi pada tempat – tempat keramat untuk menyerap energi suci dari Allah, agar batin kita bertambah bersih, suci nan kuat atas seijin-Nya.”
  3. Berkunjung atau ziarah ke makam wali dan dilanjutkan dengan meditasi agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karamah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,”
  4. Latihan meditasi di makam Sunan Kalijaga diperlukan karena di tempat tersebut memiliki energi paling tinggi. Hal ini karena memang Sunan Kalijaga adalah wali yang memiliki ilmu paling tinggi
  5. Latihan Meditasi di makam Sunan Drajad terpilih untuk menembus alam ghaib karena energi yang ada di tempat itu dapat membantu meditasi yang akan menembus alam ghaib. Apalagi semasa hidupnya Sunan Drajad terkenal dengan sifatnya yang welas asih sehingga energi yang ada di sekitar makamnya pun akan terpengaruh oleh sifat Sunan. Artinya peserta latihan dapat terbantu energi tersebut.
  6. Latihan meditasi untuk menembus alam ghaib adalah pertama peserta harus berkonsentrasi di cakra jantung, badan rileks tapi serius, posisi duduk bersila. Kemudian mengaktifkan cakra mahkota atau ubun – ubun, seluruh cakra pori – pori dan meditasi cahaya gaib. Baru kemudian dibantu dengan pembacaan doa-doa.

Dari kisah nyata mengenai pelaksanaan meditasi yang dilaksanakan para anggota sebuah Lembaga Seni Meditasi dan Pernapasan Tenaga Dalam B.N. (sesungguhnya masih ada banyak lagi perguruan tenaga dalam,padepokan ilmu hikmah yang melakukan prosesi meditasi pada tempat keramat) yang dilakukan pada kuburan wali dan tempat keramat. Marilah kita tinjau dari segi syari’at Islam yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits Rasulullah mengenai hakikat kesyirikan dalam meditasi dan prosesi meditasi yang dilakukan pada kuburan wali dan tempat-tempat keramat.

Sesungguhnya dalam pelaksanaan meditasi dikatakan merupakan suatu cara dan bentuk dari penenangan diri dengan mengosongkan fikiran adalah salah satu bentuk kebodohan,sebab jika kita sama sekali kosong dari mengingat Allah maka hati kita akan mati.Seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari r.a Rasulullah bersabda,”Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada-Nya,bagaikan orang yang hidup dengan orang mati.”

Jika kita ingin menenangkan diri dan mengharapkan jalan keluar dari permasalahan yang kita hadapi kita haruslah mengingat Allah dengan membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan dengan berzikir kepada Allah agar hati kita menjadi tenang dan bahagia.Dzikir dapat dilakukan dimana saja pada tempat yang suci dan kapan saja dan tidak mengharuskan pada tempat khusus dengan posisi tubuh atau pengaturan nafas yang khusus. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman :

وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan Berzikirlah kepada Allah sebanyak mungkin,supaya kamu bahagia”(Al-Anfal:45)

Allah Ta’ala juga telah berfirman :

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu nasihat daripada Tuhan kamu serta penawar bagi hati yang di dalam dada, juga petunjuk dan rahmat bagi orang-orang Mu’minin. Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmatNya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Hal itu adalah lebih baik dari (harta) yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 57-58)

Mengingat Allah bukannya dengan meditasi mengosongkan fikiran atau hanya memusatkan fikiran saja dalam mengingat Allah melainkan haruslah dengan bacaan yang disyari’ahkan.seperti yang dituntunkan Rasulullah seperti membaca Laa ilaaha illallaahu.Rasulullah bersabda :”seutama-utamanya dzikir yaitu Laa ilaaha illallaahu”

Selain itu dalam mengingat Allah agar hati menjadi tentram haruslah orang itu benar-benar beriman yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.(QS.Ar Ra’d(13):28)

Pada pembahasan ini saya akan jelaskan permasalahan adanya keyakinan bahwa bermeditasi pada tempat – tempat keramat untuk menyerap energi suci dari Allah, agar batin kita bertambah bersih, suci nan kuat atas seijin-Nya dan agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karamah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,”adalah bentuk kesesatan dan kesyirikan yang nyata.

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kalian shalat (memohon) kepada kuburan, dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw telah melaknat orang-orang yang kerjanya ziarah kubur, orang yang menjadikan kuburan itu masjid dan meletakkan lampu di atasnya. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, Tirmizay, Ibnu Hibban dan lain-lain).

Penjelasan dari hadits diatas adalah Rasulullah melarang kita untuk meminta barokah para penghuni kubur yang telah meninggal hingga seseorang menjadi ketergantungan mewajibkan diri untuk berziarah, juga orang yang menjadikan kuburan itu tempat berdoa,meminta pertolongan atau syafaat dengan ahli kubur lalu mengkeramatinya dengan memberikan hiasan-hiasan pada kubur.

Kita dalam berziarah tidak boleh memohon pertolongan dan bantuan kepada mayit, meskipun dia seorang nabi atau wali, sebab itu termasuk syirik besar karena mereka tidak bisa memberi manfaat seperti beranggapan bahwa para wali dapat diambil karomahnya, energinya disedot, dipinjam ilmu kesaktiannya maupun mudharat seperti jika kita tidak mendoakannya akan mendapat celaka.Allah berfirman,

وَلاَ تَدْعُ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: l06)

Rasulullah telah bersabda :“Dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, sekarang berziarahlah kalian. Karena ziarah kubur akan mengingatkan kepada akhirat. Dan hendaklah berziarah itu menambah kebaikan buat kalian. Maka barangsiapa yang ingin berziarah silakan berziarah dan janganlah kalian mengatakan perkataan yang bathil (hujran).” (HR. Muslim, Abu Dawud, Al Baihaqi, An Nasa’i, dan Ahmad)

Imam Nawawi rahimahullah berkata dalam Al Majmu’ 5/310 : “Hujran artinya ucapan yang bathil. Larangan pertama (untuk ziarah kubur, pent.) karena masih barunya mereka meninggalkan kejahiliyahan dan mungkin karena mereka suka mengatakan ucapan jahiliyah. Maka ketika telah kokoh dasar-dasar Islam, kuat hukum-hukumnya, dan menyebar tanda-tandanya, dibolehkan berziarah bagi mereka.”

“Tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan orang-orang awam dan selainnya ketika berziarah dengan berdoa kepada si mayit, beristighatsah kepadanya, dan meminta kepada Allah dengan haknya mayit adalah ucapan bathil (hujran) yang paling besar. Maka wajib bagi ulama untuk menjelaskan hukum tentang itu. Juga menjelaskan cara ziarah yang sesuai dengan syariat kepada mereka dan tujuan ziarah itu.” Demikian yang ditegaskan oleh Asy Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Ahkamul Janaiz halaman 227

Dari penjelasan diatas maka jelaslah kebathilan jika kita berziarah untuk meminta dan berdoa pada mayid walaupun dengan alasan sebagai perantara dia kepada Allah.Apalagi menjadikan ziarah kubur sebagai prosesi ritual mendapatkan kesaktian.Dan merupakan ucapan bathil tanpa ilmu jika dikatakan bahwa “urusan syirik itu kita tidak mengetahuinya dan hanya Allah yang tahu hakikat kesyirikan yang penting niat kita”(sebagaimana yang dikatakan D S sebagai dewan guru B N ).Sebab penjelasan mengenai syirik telah jelas dalam Al-Qur’an dan Hadits dan para ulama telah menjabarkan hakikat kesyirikan dengan bersandarkan pada Al-Qur’an dan Hadits.

Jika dikatakan mereka bahwa berziarah kubur dan bermeditasi sebagai sarana untuk mendapatkan karomah dari Allah adalah salah besar.Sebab karomah tidaklah bisa didapatkan dari suatu hal yang jelas-jelas bathil dan karomah itu sendiri tidak bisa direncanakan untuk mendapatkannya.Walaupun dengan ibadah yang sesuai tuntunan Islam sekalipun kita janganlah mencari karamah tetapi harus istiqomah untuk mendapatkan rido dari Allah.

Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i :“Jadilah engkau orang yang mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari keistiqomahanmu”.

Berkata Syaikh As-Sahrwardi :”Ucapan ini adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf yang sholih, telah diberi karomah-karomah dan hal-hal yang luar biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya frustasi dalam keadaan menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah. Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya beristiqomah –pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang rendah bagi mereka.”

Jadi adalah salah besar jika kita beribadah kepada Allah yang niatnya untuk mendapatkan karamah apalagi jika dalam ibadah kita terdapat unsur syirik dan bid’ah sebagai mana yang telah dikatakan dewan guru B N bahwa “Berkunjung atau ziarah ke makam wali dan dilanjutkan dengan meditasi agar kita dapat sedikit meniru kesucian wali tersebut. Berupaya menyerap karamah yang telah diberikan Allah kepada mereka serta menghayati hakekat ilmu Allah,”

Dampak Negatif Meditasi

Kasus efek negative bermeditasi yang telah diteliti adalah kasus yang dialami oleh seorang warga San Fransisco, Amerika Serikat, bernama Karen Long, sebagaimana dikutip SF Weekly.com, ditahun 2002. Karen Long pada awalnya mendatangi kuil Budha di kotanya. Ia bermaksud menemui seorang guru yang mengajarkan praktek meditasi untuk menyembuhkan beberapa penyakit fisik yang dideritanya. Atas anjuran sang guru. Karen pun setiap hari melakukan meditasi satu- dua jam. Dan hasilnya cukup menggembirakan, karena gangguan fisik yang dikeluhkannya berangsur-angsur lenyap. Tapi yang menjadi permasalahannya, karena ia justru dijangkiti oleh penyakit baru, yakni berhalusinasi. “Saya mulai mendengar suara-suara aneh“. Kata Karen. Padahal suara itu sebenarnya tak ada.

Keluhan tersebut sempat diutarakan oleh Karen Long kepada gurunya. Apa jawaban gurunya/ halusinasi itu tak lain ‘wahyu tuhan” atau sejenis wangsit (red : tidak lain bisikan jin/setan). Gurunya menyarankan Karen untuk tetap rutin dalam bermeditasi. Walaupun demikian, tetap saja. Tidak bisa menenangkan bathin Karen. Ia tetap gelisah. Hal itu baru bisa hilang tiga tahun kemudian setelah Karen menghentikan meditasinya.

Permasalahan buruk yang demikian ini, tak hanya dialami oleh Karen saja. Bahkan menurut pengakuan Maggie Phillips, Direktur california Institude Clinical Hypnosis, Oakland, Amerika Serikat, ia dikunjungi banyak pasien yang mengalami efek negatif bermeditasi, sebagaimana yang dialami Karen tersebut. Keterangan ini juga dapat kita peroleh dari Jahja Lanich, psikolog klinis pada Universitas Berkeley Amerika Serikat, yang mengaku kedatangan 70 pasien yang berobat gara-gara bermeditasi. Dari catatan medis, rata-rata mereka mengeluh cemas, susah tidur, dan muka pucat. Misalnya ada yang menderita cemas, merasa lingkungan disekitarnya seolah-olah gelap, susah tidur, mendengar suara-suara aneh dan bahkan ada yang merasa bahwa dirinya sudah meninggal dunia. Keluhan yang demikian sangat mengejutkan, karena dari riwayat famili, tak satupun dari mereka yang mengidap gangguan mental.

Studi serupa pernah dilakukan oleh psikolog dari universitas Leuretian, kanada pada awal tahun 2002 yang lalu. Dari 1.081 maditator, sebanyak 221 orang mengalami gejala-gejala epilepsi, antara lain kejang-kejang dan keluarnya cairan dari mulut. (dalam bahasa kita Kesurupan). Erwin Kusuma, psikiater pada Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, jakarta Pusat, mengakui bahwa kasus serupa menimpa beberapa pasiennya. Mereka mengeluh kerap sedih, cemas, tegang seusai bermeditasi.

Namun dari sekian banyak pasien itu , hanya dua orang yang diminta Erwin menghentikan program meditasi lantaran mentalnya lemah. “Satu diantaranya” kata Erwin, “Mengalami halusinasi pendengaran, seakan-akan mendengar suara aneh.” Efek negatif bermeditasi yang demikian itu, tentu saja mengejutkan semua orang. Sebab selama ini banyak orang yang mengklaim bahwa meditasi relatif aman dan bisa membasmi sejumlah penyakit psikis maupun fisik. Yang paling mengkhawatirkan adalah efek halusinasi. Halusinasi termasuk satu diantara tanda skizophrenia. Orang awam sering menyebut skizophrenia ini dengan penyakit gila.

Karena itu tak heran bila Erwin pernah berkata, “Meditasi bisa memicu skizaphrenia dan epilepsi”. Artinya penyakit jiwa yang sudah “mendekam” lebih dulu di tubuh pasien, lalu muncul setelah menjalani meditasi. Namun Erwin juga menandaskan bahwa ” Meditasi bukan faktor penyebab tapi pemicu skizophrenia dan epilepsi disebabkan oleh banyak variabel antara lain faktor lingkungan dan genetika”

Sejumlah ahli syaraf dan psikiater sepakat, bahwa relaksasi pada meditasi memang bisa memicu kecemasan. Hal ini terjadi karena selama meditasi, otak mengeluarkan seretonim. Neurotransmiter itu meningkat melebihi kadarnya. Padahal seretonim terkait dengan memori dan kemurungan seseorang. Makin tinggi kadarnya, ingatan masa lalu bisa muncul lagi. Neurotransmitter adalah zat kimia di otak yang menghubungkan informasi antar sel syaraf di otak.

Dalam proses meditasi, alam bawah sadar seseorang ‘diangkat’ guna mengimbangi alam sadar, yang selama ini mendominasi kehidupan seseorang. Perasaan cemas, takut dan gembira yang selama ini terpendam dalam alam bawah sadar, bisa muncul pada saat meditasi. Hal ini yang mempengaruhi emosi. Sehingga wajar bila muncul ketegangan dan kegelisahan. Demikian keterangan Erwin Kusuma yang juga merupakan dosen hipnosis kedokteran, bagian psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Menanggapi masalah munculnya faktor negatif dari meditasi tersebut, Maggie Phillips (Direktur california Institude Clinical Hypnosis, Oakland, Amerika Serikat) menyalahkan guru meditasi. Sebab menurut Maggie Philllips, banyak pelatih meditasi tidak bisa menginteraksikan relaksasi dengan meditasi. Meditasi lebih sering dikedepankan ketimbang relaksasi. Akibatnya pasien kerasukan bayang-bayang. Padahal, relaksasilah yang membuat orang tenang bukan meditasi. Selain itu, meditasi terlalu lama dan mencampurkan dengan mantra-mantra bisa jadi pemicunya.

Spiritual by Kuliah Ilmu Ghaib