Hakekat Bertemu Dengan Allah

Dapatkah kita menyaksikan/menemui Alloh ?

Banyak pendapat di kalangan umat beragama mengatakan bahwa menusia tidak akan bertemu / menyaksikan tuhan terkecuali Nabi. Kata menyaksikan pasti ada hubungannya dengan pandangan mata.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ada dua macam pandangan mata, nyaitu mata lahiriah dan bathiniah.

Mata lahiriah dari alam indrawi dan alam kasat mata dan mata bathiniah dari alam lain, nyaitu alam malaikat atau alam malakul.

Mamang manusia tak akan mampu melihat-Nya dengan mata lahiriah. Kalaupun seandainya Alloh menampakan dirinya, pasti kita tak akan kuat manatap wujudnya dengan indra mata kita. Dan akal kita tak akan mampu menjangkau pamahaman tentang Alloh, kecuali melalui Ma’rifat atau tingkat keyakinan yang tinggi.

Di karenakan Tuhan itu tersembunyi, maka inilah yang menyebabkan tak terjangkaunya Dia oleh pemahaman.

Akan tetapi bagi orang yang kuat dan tajam mata batinnya, penuh ketekunan, maka hal itu bagi mereka dalam keadaan bagaimanapun, di manapun berada yang di lihat hanya Alloh, mereka dapat melihat wajud-Nya dengan mata batinnya yang tajam dan kuat itu.

Sedangkan ciptaan-Nya yang ada di alam semesta ini hanyalah kodrat-Nya saja, sesuatu yang ia lihat, disebut orang yang bertauhid dalam arti yang sebenarnya, bahkan dirinya tidak di pandang sebagai makluk yang berdiri sendiri melainkan dirinya adalah merupakan sesuatu kesatuan dengan semesta alam.

Untuk memperkuat pemahaman tersebut di atas dalam rangka mencari kebenaran maka sebaiknya perhatikanlah bunyi ayat-ayat sebagai berikut:

Al-Ankabut (29 ayat 5) :

Barang siapa yang mengharapkan untuk menemui Alloh, maka janji Alloh akan datang, Dia maha mendengar dan Maha Mengetahui.

Apabila kita menyimak ayat tersebut di atas dengan akal yang sehat, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita dapat bertemu dan menyaksikan Tuhan apabila Tuhan mengizinkan dan menghendaki-Nya. Demikian pula perhatyikan bunyi Kalimat Syahadat sebagai berikut :

“Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Alloh”.

Dari kalimat tersebut dapat di tegaskan bahwa kita dapat menyaksikan Tuhan, bila dikehendaki-Nya dan atas seizing-Nya. Dan shalat kita benar benar seperti apa yang di ucapkan oleh mulut kita.

Bagaimana cara untuk bertemu dan menyaksikan Tuhan ? sebagai suatu contoh yang nyata dapat kita pelajari pengalaman Nabi Muhammad Saw. Waktu beliau mengadakan Isro Mi’raaj, untuk menemui Alloh. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa Tuhan adalah Maha Roh dan untuk menyembah Alloh haruslah dengan Roh kita.

Dengan perkataan lain apabila kita menghadap Alloh haruslah dengan badan rohani kita dan tidak dengan badan jasmani kita. Seperti di kemukakan di depan bahwa enkau bahkan harus mati selagi hidup (mati sajroning urip) dan sesudah itu barulah engkau dapat bertemu dengan Dia. Maka untuk menemui Alloh kita harus mematikan bada jasmani dan kita menumuinya dengan Roh (badan Rohaniah) kita.

Pada dasarnya seorang Ahli Ma’rifat tidak bersedia menjelaskan cara berma’rifat kepada umum secara terbuka, kecuali orang-orang yang benar-benar ingin menemui Alloh dengan cara pembuktian, setelah memenuhi beberapa pers yaratan.

Untuk memperoleh penjelasan yang lebih terperinci para pembaca kami persilahkan untuk menanyakan kapada seorang ahli Ma’rifat.

Perjalanan Miraaj untuk menumui Tuhan adalah suatu pengalaman ghaib serta rahasia serta laku laku dengan tanpa melakukan hal-hal yang sukar dan pula tidak menimbulkan dampak negatif terhadap jasmani dan mental. Apabila Tuhan menghendaki dan mengizinkan-Nya maka secara amat ajaib Tuhan menampakan cahaya-Nya (Nur).

Untuk melaksanakan Ma’rifat bagi seseorang yang belum pernah melaksanakannya, haruslah di bimbing oleh seorang Guru Murshid yang telah kenal dan tahu kepada Tuhannya. Seperti firman Alloh sebagai berikut :

Al-Israa (17 ayat 1) :

“Maha Suci Alloh yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aghso (Maitul Magdis) yang kami berkahi sekelilingnya agar kami memperlihatkan sebagian tanda tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Al-Naml (27 ayat 40) :

“Dia berkata : Saya bisa membawamu kapada-Nya dalam sekejap mata” Dan tatkala ia melihat singasana berada pada dirinya, ia berkata “Inilah karunia Tuhanku, supaya Dia mencobaku, apa aku berterimakasih, maka ia berterimasih pada Rohnya sendiri, dan siapa yang tidak berterimakasih maka sesungguhnya bagi dirinya Alloh adalah berkecukupan lagi terhormat”.

Al-Israa (17 ayat 72) :

“Dan barang siapa yang di dunia ini buta maka di Akhirat pun lebih buta dan sesat jalan”.

Apabila seseorang bermaksud hendak berma’rifat, maka terlebih dahulu yang bersangkutan harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut. :

1. Harus memiliki niat dan tekad serta keyakinan ingin bertemu dengan Alloh. 2. Harus memiliki kemerdekaan berfikir dengan menggunakan akal dan ratio, untuk menemui Alloh. 3. Harus memiliki kemerdekaan kemauan / kehendak, yaitu kemauan untuk menemui Alloh itu benar-benar kemauan / kehendak dari hati sanubarinya, bukan karena terpaksa, ikut-ikutan atau sekedar ingin tahu saja. 4. Menggunakan Ayat-ayat kitab Suci sebagai referensi untuk dapat menemui Alloh. 5. Mencari dan mendapatkan seorang Guru Murshid yang benar-benar sudah Ma’rifat, nyaitu yang sudah tahu dan kenal kepada Tuhannya sesuai dengan bunyi ayat-ayat sebagai berikut :

Al-Ankabut (29 ayat 5,23) :

Barang siapa yang mengharap / bertekad ingin menemui Alloh oleh Alloh pada saat yang tertentu pasti akan tiba, dan Dia adalah Maha mendengar lagi Mengetahui.

Dan orang-orang yang kafir kepada pekabaran (kabar) Alloh dan menolak serta tidak percaya untuk menemui Tuhannya, mereka itu berputus harapan dari rakhmat-Ku, dan untuk mereka siksaan yang amat pedih.
Al-Mujjaadilah (58 ayat 12-13) :

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah sebelum pembicaraan itu, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih, jika kamu tiada sanggup maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Apakah kamu takut (miskin) karena bersedekah sebelum pertemuan itu. Maka jika kamu tidak memperbuatnya dan Alloh telah memberi taubat kapada kamu, maka dirikanlah shalat, tunaikan Zakat, dan taatlah kapada Alloh dan Rasul-Nya. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan


Perlukah Manusia Menumui Alloh (Ma’rifat)

Banyak orang berpendapat bahwa untuk beriman kapada Alloh kita cukup percaya dan yakin terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu bagi umat islam cukupcukup malaksakan Rukun Islam dan Rukun Iman dengan sempurna, maka manusia telah marasa puas dan telah cukup beriman terhadap Alloh Swt, tanpa berusaha untuk menemui dan mengenal Alloh.

Benarkah demikian ?

Untuk mengkaji kebenaran pendapat tersebut di atas, kami persilahkan para pembaca memahami dan meneliti serta mencari jawabannya dengan mampelajari bunyi ayat-ayat kitab Suci sebagai berikut :

Al-Kahfi (18 ayat 103-104-105 ) :

“Katakanlah : Apakah akan kami berituhukan kapadamu tentang orang-orang amat rugi perbuatannya ?”

“Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia sedang mereka mengira bahwa mereka mengerjakan pekerjaan yang baik”.

“Meraka itu ialah orang-orang yang kufur (ingkar) terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur) terhadap perjumpaan denga-Nya. Maka hapuslah amalan- amalan mereka. Dan kami tidak adakan timbangan bagi mereka pada hatri kiamat.


Yunus (10 ayat 7 dan 8) :

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami”.

“Meraka itulah tempatnya neraka, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”.

Adapun manfaatnya atau keuntungannya bagi orang-orang yang yang sudah Ma’rifat (tahu dan kenal Tuhannya) serta taqwa dan taat kepada Alloh itu semuanya dapat dipelajari dari Ayat-ayat berikut :

Al-Maidah (5 ayat 3) :

“Pada hari ini telah kesempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku ridhoi ISLAM sebagai Agama bagi kamu”.

Al-Waaqiah (56 ayat 88-89) :

“Maka adapun jika dia termasuk orang dekat (dengan Alloh). Maka dia mendapat kalapangan , Rezeki dan kenikmatan”.

An-Nahl (16 ayat 97) :

“Barang siapa yang berbuat kebaikan dari laki-laki atau perempuan dan dia mukmin, niscaya kami menghidupkannya dengan kehidupan yang baik, dan kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.

Ash-Shaafaat (37 ayat 148) :

“Maka mereka beriman, lalu kami beri nikmat sampai suatu masa”.

Yaa-Siin (36 ayat 25-27) :

“Sesungguhnya aku telah beriman kapada Tuhan, maka dengarkanlah kesaksianku”.

“Dikatakannya : Masuklah ke dalam surga, dia berkata “ Wahai sekiranya kaumku mengetahui “

“Apa yang menyebabkan Tuhanku mengampuniku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimulyakan.

Al-fath (48 ayat 1-2) :

“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.

“Supaya Alloh memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta meyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan pemimpin kamu kepada jalan yang lurus.

Spiritual by Kuliah Ilmu Ghaib